paritas
kambing Boerawa
II. TINJAUAN
PUSTAKA
A. Kambing Boer
Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan
memiliki pertumbuhan yang cepat.
Kambing ini dapat mencapai berat panen 35—45 kg pada umur 5—6 bulan, dengan
rataan pertambahan bobot tubuh antara 0,02—0,04 kg/hari, lebih tinggi bila
dibandingkan dengan kambing pedaging lokal
yang memiliki bobot panen 20—30 kg. Keragaman ini tergantung pada banyaknya
susu dari induk dan ransum pakan sehari-harinya. Persentase karkas Kambing Boer
mencapai 40--50% dari berat tubuhnya (Anonimus, 2004).
Kambing Boer dapat dikenali dengan mudah dari
tubuhnya yang lebar, panjang, dalam, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung
cembung, bertelinga panjang menggantung, kepala berwarna cokelat kemerahan atau
cokelat muda hingga cokelat tua. Beberapa Kambing Boer memiliki garis putih ke
bawah di wajahnya (Ted dan
Shipley, 2005). Lebih lanjut dikemukakan bahwa kambing Boer dapat hidup pada
suhu lingkungan yang ekstrim, mulai dari suhu sangat dingin (-25oC)
hingga sangat panas (43oC) dan mudah beradaptasi terhadap perubahan
suhu lingkungan.
B. Kambing Boerawa
Kambing Boerawa adalah kambing hasil
persilangan antara Kambing Boer dan Kambing PE. Ciri-ciri Kambing Boerawa
terletak antara kambing Boer dan PE. Kambing Boerawa memiliki telinga agak
panjang dan terkulai kebawah sesuai dengan ciri-ciri kambing PE. Kambing
Boerawa termasuk kambing tipe pedaging sehingga memiliki performan pertumbuhan
yang meliputi bobot lahir, partum- buhan prasapih, dan bobot sapih cukup
tinggi yaitu .
Kambing Boerawa saat ini sudah berkembang
baik dan menjadi salah satu komoditi ternak unggulan Provinsi Lampung.
Perkembangan yang pesat tersebut berkaitan erat dengan potensi Provinsi Lampung
yang besar dalam menyediakan pakan kambing berupa hijauan maupun limbah
perkebunan (Ditbangnak, 2004). Lebih lanjut dikatakan bahwa kambing Boerawa
terbukti memiliki keunggulan antara lain berat lahir yang lebih tinggi,
pertumbuhan berat badan yang lebih cepat, dan menghasilkan daging yang bermutu
baik. Bobot badan kambing Boerawa saat sapih mencapai 17 kg.
C. Kambing Peranakan Etawa
Kambing PE merupakan hasil persilangan antara
kambing Etawa dan Kacang serta merupakan tipe dwiguna yaitu
penghasil susu dan daging; namun di Indonesia dipelihara sebagai kambing
pedaging (Williamson dan Payne, 1993). Kambing PE memunyai sifat yang dimiliki
diantara kedua sifat tetuanya tergantung pada proporsi genetik yang diwariskan
oleh tetuanya. Warna bulu kambing PE bervariasi, ada yang berwarna putih dan
cokelat muda serta putih hitam, dan
daun telinganya panjang (Cahyono, 1998).
Kambing PE terbukti memiliki kemampuan
adaptasi dengan berbagai lingkungan, dari wilayah tropis hingga subtropik sehingga mampu beradaptasi pula dengan
baik terhadap iklim Indonesia (Heriyadi, 2004). Kambing PE sebelumnya hanya
tersebar di beberapa lokasi di Pulau
Jawa seperti Kecamatan Girimulyo sehingga disebut dengan istilah kambing Jawa,
namun kini kambing PE tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia (Yusnandar,
2004).
Produktivitas kambing PE dipengaruhi oleh
tata laksana pemeliharaan. Kondisi pemeliharaan yang baik memungkinkan kambing
dapat mencapai bobot sapih sampai
15 kg (Budiasih, 2007).
D. Bobot Lahir
Menurut Rivai (1995), bobot lahir adalah berat
badan anak pada waktu dilahirkan. Anak kambing yang dilahirkan dengan bobot badan yang lebih tinggi pada umumnya
memperlihatkan pertumbuhan yang lebih cepat.
Menurut Suwardi (2003), bobot lahir
dipengaruhi oleh jenis kelamin anak, bangsa induk, lama bunting, umur induk,
dan makanan induk selama bunting. Rivai (1995) menambahkan bahwa bobot lahir
juga dipengaruhi oleh factor-faktor yang dimiliki oleh induk seperti genetic
induk, manajemen terhadap induk dan paling dominan adalah pemberian makanan
selama bunting. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Hafez (1969) bahwa
pertumbuhan dipengaruhi oleh umur induk, jumlah anak, dan nutrisi induk.
Devendra dan Burns (1994) menyatakan bahwa terdapat perbedaan bobot lahir anak
jantan dan betina; dimana bobot lahir anak kambing jantan lebih tinggi dari
pada yang betina.
Menurut Sutan (1988), umur induk dan paritas
berpengaruh terhadap bobot lahir anak. Berikut ini adalah rata-rata bobot lahir
Kambing Boerawa pada paritas ke-2 dan ke-3
Table 1. Bobot Lahir Kambing Boerawa dan PE
pada Paritas ke-2 dan ke-3
|
Paritas
|
Rata-rata bobot
lahir (kg)
|
|
|
Kambing Boerawa
|
Kambing PE
|
|
|
Kedua
|
3,19 ± 0,14
|
2,67 ± 0,08
|
|
Ketiga
|
3,23 ± 0,13
|
2,69 ± 0,07
|
Sumber: Shosan, (2006) dan Budiasih (2007)
Bobot lahir akan semakin meningkat seiring
dengan meningkatnya paritas. Hal tersebut disebabkan oleh semakin tuanya umur
induk shingga organ-organ tubuh semakin berkembang.
Bobot lahir memunyai hubungan yang erat
dengan pertumbuhan. Anak kambing yang bobot lahirnya lebih tinggi akan
menyebabkan pertumbuhan yang lebih cepat dan ekonomis dibandingkan dengan anak
yang bobot lahirnya lebih rendah pada pemberian jumlah makanan dan kualitas
yang sam (Anggorodi, 1979).
E. Bobot Sapih
Bobot sapih merupakan indikator kemampuan
induk dalam menghasilkan susu dan kemampuan anak kambing untuk mendapatkan susu
dan tumbuh. Anak kambing yang tumbuh cepat dan mencapai bobot sapih yang tinggi
biasanya meengalami pertumbuhan yang sangat pesat pula setelah sapih (Dakhlan dan
Sulastri, 2002).
Menurut Edey (1983), bobot sapih dipengaruhi
oleh faktor genetik, bobot lahir, produksi susu induk, litter size, umur induk, jenis kelamin anak, dan
paritas. Anak kambing yang memunyai bobot lahir yang lebih tinggi akan tumbuh
lebih cepat sehingga mencapai bobot sapih yang lebih tinggi pula. Hal tersebut
disebabkan adanya korelasi genetic yang positif antara bobot lahir dan sapih
serta pertumbuhan bobot tubuh dari lahir sampai disapih (Lasley, 1978).
Selain factor genetic, bobot sapih juga
dipengaruhi oleh factor induk, tetapi pengaruh tersbut menunjukan penurunan
dengan meningkatnya umur induk pada batas waktu tertentu (Nalshom dan Danell,
1996). Anak kambing dengan bobot lahir yang rendah biasanya mendapatkan susu
yang lebih sedikit dari induknya sehingga pertumbuhannya lambat. Berikut ini
adalah data bobot sapih Kambing Boerawa dan PE pada paritas ke-2 dan ke-3.
Tabel2, Bobot Sapih Kambing Boerawa dan PE
pada Paritas Ke-2 dan Ke-3.
|
Paritas
|
Rata-rata bobot
sapih (kg)
|
|
|
Kambing Boerawa
|
Kambing PE
|
|
|
Kedua
|
17,9 ± 1,77
|
14,28 ±
2,15
|
|
Ketiga
|
18,07 ± 1,39
|
16,33 ± 0,85
|
Sumber: Shosan, (2006)
Lebih lanjut dinyatakan oleh Edey (1983)
bahwa anak kambing yang dilahirkan kembar memiliki bobot lahir yang lebih
rendah karena adanya kompetisi untuk mendapatkan nutrisi pada saat dalam masa
kebuntingan induknya. Umur induk memengaruhi bobot sapih anak kambing karena
induk yang lebih muda akan menghasilkan susu 30% lebih rendah pada saat laktasi
pertama dari pada kambing yang lebih dewasa.
F. Pertumbuhan
Menurut Butterfield (1988) pertumbuhan
merupakan proses terjadinya perubahan ukuran tubuh dalam suatu organisme
sebelum mencapai dewasa. Perubahan ukuran
meliputi perubahan bobot hidup, bentuk dimensi linear dan komposisi tubuh
termasuk pula perubahan pada komponen-komponen tubuh seperti otot, lemak,
tulang dan organ dalam serta komponen kimia terutama air, lemak, protein dan
abu (Edey, 1983 dan Soeparno, 1992). Pada proses selama pertumbuhan terjadi dua
hal yang mendasar yaitu pertambahan bobot hidup yang disebut pertumbuhan dan
perubahan bentuk yang disebut perkembangan (Lloyd, dkk., 1978). Pertumbuhan pada umumnya
dinyatakan dengan mengukur kenaikan bobot hidup yang mudah dilakukan dan
biasanya dinyatakan sebagai pertambahan bobot (PBT) hidup harian atau average daily gain (ADG). Pertumbuhan yang diperoleh
dengan memplotkan bobot hidup terhadap umur akan menghasilkan kurva pertumbuhan
(Tillman, dkk., 1984 dan Taylor,
1984).
Tumbuh-kembang dipengaruhi oleh faktor
genetik, pakan, jenis kelamin, hormon, lingkungan dan manajemen (Williams, 1982
dan Judge, dkk., 1989). Menurut Edey (1983), beberapa faktor utama yang
memengaruhi pertumbuhan kambing prasapih adalah genotipe, bobot lahir, produksi
susu induk, jumlah anak per kelahiran, umur induk, jenis kelamin anak dan umur
sapih.
Pertambahan bobot hidup anak kambing prasapih
sangat dipengaruhi oleh jumlah anak yang disapih. Jenis, komposisi kimia
(kandungan zat gizi) dan konsumsi pakan mempunyai pengaruh yang besar terhadap
pertumbuhan (Soeparno dan Davies, 1987). Konsumsi
protein dan energi yang lebih tinggi akan menghasilkan laju pertumbuhan yang
lebih cepat (Maynard dan Loosli, 1969). Konsumsi pakan yang cukup akan
mempercepat pertumbuhan, sedangkan kekurangan pakan dapat menyebabkan
berkurangnya bobot hidup (Tillman, dkk.,1984).
Hasil penelitian Budiasih (2007) menunjukkan
bahwa rataan pertambahan bobot tubuh kambing Boerawa di Kecamatan Gisting
Kabupaten Tanggamus untuk paritas ke-2 sebesar 0,146 ± 0,014 kg/hari lebih
besar dibandingkan dengan paritas ke-3 sebesar 0,143 ± 0,11 kg/hari. Lebih
tingginya pertumbuhan prasapih Kambing Boerawa pada paritas ke-2 disebabkan
tingginya tipe kelahiran tunggal pada paritas ke-2 yaitu 9 ekor dibandingkan
pada paritas ke-3 yaitu 7 ekor.
G. Paritas
Menurut Triwulaningsih (1989), paritas induk
yaitu urutan keberapa kali melahirkan yang
dapat memengaruhi bobot lahir
anak. Sutan (1988) menyatakan bahwa umur induk dan paritas berpengaruh terhadap
bobot lahir anak (table 1). Rata-rata induk yang melahirkan pada umur lebih tua
umumnya berat lahir per individunya lebih tinggi dari pada anak yang dilahirkan
dari seekor induk yang lebih muda, hal ini dikarenakan induk-induk muda tumbuh
terus selama masa kebuntingan yang pertama, sehingga harus bersaing ketat
dengan janin yang ada dalam kandungan untuk bahan makanan yang tersedia
(Toelihere, 1981).
Paritas dapat
memberikan gambaran aktualisasi kematangan fisik induk kambing. Primipara atau
induk kambing yang mengalami dua kali partus memiliki tingkat kematangan fisik
sekitar 82--90%, artinya bahwa kambing belum mencapai tingkat
pertumbuhan yang optimal (Wathes, dkk., 2005). Sedangkan pluripara atau
induk kambing yang mengalami lebih dari dua kali partus sudah memiliki tingkat
kematangan fisik.
H. Produksi Susu
Phalepi (2004) menyatakan bahwa produksi susu
dipengaruhi mutu genetik, umur induk, ukuran dimensi ambing, bobot hidup, lama
laktasi, tata laksana yang diber-lakukan pada ternak (perkandangan, pakan, dan
kesehatan), kondisi iklim setempat, daya adaptasi ternak, dan aktivitas
pemerahan. Faktor lain yang berpengaruh terhadap produksi susu adalah proses
penyusuan, yang dapat meningkatkan produksi susu induk dan akan menurun tajam
ketika anak disapih (Hastono, 2003).
Menurut Phalepi (2004), Produksi susu pada ternak
yang umurnya lebih tua lebih tinggi dari pada ternak yang lebih muda, sebab
ternak muda masih mengalami proses pertumbuhan. Pendistribusian zat-zat makanan
pada ternak-ternak muda hanya sebagian yang digunakan untuk produksi susu dan
sebagian lagi untuk pertumbuhan termasuk kelenjar ambing yang masih pada tahap
perkembangan .
Sutama (1994) menyatakan bahwa produksi susu
kambing PE berkisar 1,5-3,5 l/ekor/hari. Menurut Sudono dan Abulgani (2002),
produksi susu kambing PE cukup rendah, yaitu berkisar 0,5–0,9 l /ekor/hari.
Atabany (2002) menyatakan bahwa produksi susu kambing berkisar 1-3 l/ekor/hari,
tergantung pada bangsa kambing, masa laktasi, suhu lingkungan, pakan, jumlah
anak perkelahiran dan tata laksana pemeliharaan. Frekuensi pemerahan per hari juga
berpengaruh terhadap produksi susu. Produksi susu meningkat 40% pada pemerahan
dua kali sehari daripada pemerahan satu kali. Produksi susu lebih tinggi 5--20%
pada pemerahan tiga kali sehari daripada dua kali dan pemerahan empat kali
lebih tinggi 5--10% daripada pemerahan tiga kali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar