Jumat, 17 April 2015

Bawang Merah

PENGARUH KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS
BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L. )

Oleh
 Mutia Oktazana *)
0910005301036

Di bawah bimbingan  M. Zulman Harja Utama dan Milda Ernita
*) Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Tamansiswa Padang 2014
ABSTRAK
Percobaan pengaruh konsentrasi pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas bawang merah (Allium ascalonicum. L.) telah dilakukan di lahan kering Jorong Paraman Nagari Sinuruik Kec. Talamau Kab. Pasaman Barat pada ketinggian ± 750 mdpl dari bulan Mei – Agustus 2013. Tujuan percobaan adalah untuk mendapatkan interaksi Pupuk Organik Cair dan Varietas Bawang Merah terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil, dan mengetahui varietas yang cocok pertumbuhan di Kec. Talamau. Percobaan ini  menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah varietas bawang merah Varietas Gajah( V1 ), Varietas Fhilipina ( V2 ), Varietas Medan ( V3 ), Varietas Birma ( V4 ). Faktor kedua adalah konsentrasi pupuk organik cair yaitu 4 ml/l ( P1 ) dan 6 ml/l ( P2 ). Dari hasil percobaan  Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap beberapa varietas bawang merah memberikan interaksi terbaik terhadap jumlah umbi per plot bawang merah, dan Perlakuan Varietas gajah dengan konsentrasi POC 4 ml/l mampu menghasilkan bobot kering umbi perplot..
   Kata kunci : Bawang Merah, Pupuk Organik Cair

PENDAHULUAN
Bawang merah termasuk sayuran unggulan nasional yang dikonsumsi setiap hari oleh masyarakat, namun belum banyak keragaman varietasnya, baik varietas lokal maupun varietas unggul nasional.  Hal ini disebabkan perbanyakan bawang merah dengan menggunakan umbi sehingga tidak terjadi segregasi maupun keragaman dalam varietasnya.  Bawang merah  dikenal sebagai sayuran yang sangat fluktuatif  harga maupun produksinya.  Hal ini terjadi karena pasokan produksi yang tidak seimbang antara panenan pada musimnya serta panenan di luar musim (Baswarsiati et al, 2001 ).
Pertumbuhan produksi rata-rata bawang merah selama periode 1989-2004 adalah sebesar 5,4% per tahun. Komponen pertumbuhan areal panen (4,3%) ternyata lebih banyak memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan produksi bawang merah dibandingkan dengan komponen produktifitas (1,1%) (Deptan, 2007). Rata-rata produksi bawang merah menurun dari 119,74 Kw/Ha pada tahun 2004 menjadi 91,40Kw/Ha pada tahun 2007 (BPS, 2008). Sementara itu kebutuhan domestik untuk komoditi bawang merah pada tahun 2010 mencapai 976.284 ton (Deptan, 2007). Analisis data ekspor-impor 2003-2008 mengindikasikan bahwa selama periode tersebut Indonesia adalah net importer bawang merah, karena volume ekspor untuk komoditas ini secara konsisten selalu lebih rendah dibandingkan volume impornya (Hortikultura, 2010).
Di Indonesia banyak dijumpai jenis varietas bawang merah, hal ini ditunjukkkan dengan adanya perbedaan dalam ukuran dan warna umbi. Berdasarkan data FAO (2010), negara penghasil bawang merah terbanyak di dunia adalah China, India, Amerika, dan Pakistan. Untuk memenuhi kebutuhan varietas bawang merah diantaranya birma, philipin, medan, sumenep, kuning di berbagai daerah, Indonesia mengimpor komoditi ini dari negara India, Pakistan, dan China (Hariansib, 2010). Berdasarkan data tersebut, komoditi ini memiliki potensi yang cukup besar karena sesuai dengan ketinggian tempat, penyinaran matahari, suhu untuk dikembangkan diwilayah Indonesia termasuk Sumatera  Barat.
Dalam meningkatkan produksi bawang merah salah satu upaya yang dilakukan  adalah menjaga keseimbangan hara yang diberikan melalui Pupuk Organik Cair (POC) yang berfungsi sebagai katalisator untuk mengaktifkan dan mengefisiensikan pemakaiaan unsur hara makro dan mikro. Jenis POC Herbafarm merupakan jenis pupuk baru yang dikeluarkan oleh PT. Sidomuncul merupakan pupuk bio organik yang mengandung nutrisi organik yang bermanfaat bagi tanaman diantaranya C-organik 6,39%, N 2,24%, P2O5 1,91%, Seng (Zn) 0,002%, Tembaga (Cu) 2,49 ppm, Mangan (Mn) 0,003%, Kobalt (CO) 0,74 ppm, Boron (B) 0,100 %, Molibdenum (Mo) <0,001 %, Besi (Fe) 0,028%. Disamping itu juga mengandung mikro organisme tanah yang bermanfaat sebagai dekomposer (pengurai) dan penyedia nutrisis dari alam (Anonim, 2012). Dalam aplikasinya pemberian POC disemprotkan melalui daun sehingga dapat menjaga tanah dari kerusakan.Tujuan penelitian adalah Mendapatkan interaksi terbaik antara konsentrasi Pupuk Organik Cair dan varietas bawang merah terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Mendapatkan konsentrasi Pupuk Organik Cair terbaik untuk pertumbuhan dan hasil varietas bawang merah.


BAHAN DAN METODE
Percobaan tentang Adaptasi beberapa Varietas Bawang Merah (Allium ascalonium. L) Dengan Pemberian Pupuk Organik Cair ini telah dilakukan di lahan kering Jorong Paraman Nagari Sinuruik Kecamatan Talamau Sumatera Barat, dengan ketinggian ± 750 m dari permukaan laut, curah hujan rata – rata 2000 – 6200 m pertahun, dengan suhu rata – rata 250 C. Jenis tanah Ultisol dan pH 5,5 – 6,5 (Anonim, 2011a) dari bulan Mei – Agustus 2013. Jadwal pelaksanaan penelitian disajikan pada Lampiran Tabel 1.
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain bawang merah Varietas Gajah, Varietas Philipina, Varietas Medan, Varietas Birma, pupuk organik cair Herbafarm Bio Organik, Insektisida Decis 25 EC, Fungisida Antracol 70 WP. Sedangkan alat yang digunakan antara lain cangkul, parang, ember plastik, hand sprayer, meteran, timbangan, ajir, kayu, papan, cat dan alat-alat tulis.
Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap disusun faktorial. Faktor pertama yaitu Varietas bawang merah, terdiri dari : V1 = Varietas Gajah, V2 = Varietas Philipina, V3 = Varietas Birma, V4 = Varietas Medan. Faktor kedua adalah konsentrasi pupuk organik cair Herbafarm, yaitu : P1 = 4 ml/l air, P2 = 6 ml/l air. Perlakuan ini terdiri dari 8 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan, sehingga seluruh plot berjumlah 24 plot, dalam tiap - tiap plot terdiri dari 20 tanaman dengan 4 tanaman sampel . Data hasil pengamatan dianalisis dengan sidik ragam. Apabila F hitung > dari F tabel 5 % dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Rangee Test (DMRT) pada taraf 5 %. Denah percobaan menurut RAL faktorial disajikan pada Lampiran 2.
 Pengolahan tanah dilakukan 2 kali dengan mencangkul sedalam 20 - 30 cm dengan interfal waktu satu minggu. Kemudian dibuat plot – plot  dengan ukuran 1,0 m x 0,8 m, sebanyak 24 buah, dan 4 plot untuk tanaman sisipan. Jarak antar plot 40 cm dan jarak dalam plot 40 cm. Letak tanaman sampel disajikan pada Lampiran3.
Bibit yang akan digunakan  dalam percobaan ini adalah Varietas Gajah, Varietas Philipina, Varietas Medan, Varietas Birma, yang telah diseleksi dalam pemilihan umbi yang akan digunakan antara lain : ukuran umbi dipilih yang berukuran diameter 2 – 3 cm, umbi tunggal dan sehat. Umbi dipanen pada umur tanaman 100 – 110 hari setelah tanam.
Label dipasang setelah pengolahan tanah sebagai pananda perlakuan, sedangkan ajir dipasang bersamaan dengan penanaman untuk mempermudahkan dalam pengukuran.
Penanaman dilakukan dilahan yang telah dibuat lubang – lubang kecil yang dibuat menggunakan penunggal kecil dengan jarak tanam 20 x 20 cm. Bibit yang sebelumnya sudah dipotong 1/3 ujungnya, dimasukkan kedalam lubang yang telah disediakan lalu bagian atasnya ditutup dengan tanah tipis. Pemberian POC Herbafarm diberikan dengan cara disemprotkan ketanaman sampai membasahi seluruh daun tanaman. Penyemprotan diberikan sebanyak 3 kali yaitu umur tanaman 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari.
Pupuk dasar diberikan adalah Urea 300 kg/ha atau 6,75 kg/ha, KCl 200 kg/ha atau 4,50 kg/ha, dan TSP 300 kg/ha atau 6,75 kg/ha (Singgih, 2013). Pemberian pupuk Urea 1/3 bagian dan keseluruhan KCl dan TSP diberikan pada saat tanam, 1/3 bagian urea pada umur 35 hari setelah tanaman dan 1/3 bagian lagi pada umur 45 hari setelah tanam.pemupukan dilakukan dengan cara menaburkan secara merata disekeliling tanaman kemudian ditutup dengan sedikit tanah.
Penyiraman dilakukan pada sore hari kalau hari tidak hujan sampai kondisi tanahnya menjadi lembab. Penyisipan dilakukan 5 hari setelah tanam, bila ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya yang kurang baik maka dilakukanlah penyisipan dari bibit yang telah disediakan sebelumnya. Penyiangan dilakukan pada umur 3 minggu dan 6 minggu setelah tanam secara manual. Penyiangan dilakukan dengan mencabut semua gulma yang tumbuh dilahan percobaan yang selanjutnya diikuti oleh pembubunan.
Saat percobaan pengendalian hama dilakukan dengan menyemprotkan Insektisida Decis 2,5 EC dengan konsentrasi 2 cc/l air, sedangkan pencegahan penyakit digunakan Fungisida Antracol WP dengan konsentrasi masing – masing 2 g/l air. Penyemprotan dilakukan 14 setelah tanam, selanjutnya disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Pengamatan tanaman bawang merah terdiri dari :
1. Pengamatan tinggi tanaman dimulai 2 minggu setelah tanam dan selanjutnya tiap seminggu sekali sampai tidak ada lagi pertumbuhan tingginya. Tinggi tanaman diamati dari batas yang diberi tanda ajir sampai ujung daun yang tertinggi. Data dapat ditambah 10 cm dari tinggi ajir yang diberi tanda hal ini bertujuan untuk mengukur tinggi tanaman mulai dari umbi tanaman didalam tanah.
2. Pengamatan jumlah daun perumpun dimulai 2 minggu setelah tanam dan selanjutnya tiap seminggu sekali sampai tidak ada lagi pertumbuhan daunnya. Jumlah daun perumpun diamati dengan menghitung jumlah daun yang muncul diatas permukaan tanah dengan panjang lebih 2 cm.
3. Pengamatan jumlah umbi per plot dilakukan setelah tanaman dipanen dengan cara menghitung semua umbi yang terdapat dalam satu rumpun tanaman.
4. Pengamatan bobot umbi segar perumpun dilakukan setelah tanaman dipanen. Kemudian umbi dibersihkan dari kotoran dan tanah yang menempel, selanjutnya daun dipotong sekitar 3 cm diatas leher umbi kemudian ditimbang umbinya.
5. Pengamatan umbi kering perumpun dilakukan setelah umbi dikeringkan  selama 5 hari, selanjutnya baru ditimbang umbinya.
6. Semua umbi setiap plot yang telah dipanen dan dibersihkan dari kotoran tanah yang menempel, kemudian dipotong daunnya sekitar 3 cm diatas leher akar. Selanjutnya umbi dikeringkan selama 5 hari dan ditimbang setiap plotnya.
Sedangkan untuk mendapatkan berat umbi kering perhektar digunakan rumus :
Bobot umbi perhektar (ton) = 10.000 m x berat umbi kering perplot
                                                   0,8 m

 HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman
Tabel 1. Tinggi tanaman beberapa varietas bawang merah dengan pemberian pupuk organik cair Herbafarm umur 8 minggu setelah tanam.

Varietas
Konsentrasi  ml/l
Rata-rata
4
6
……………….....cm…..……………..
Gajah
36.33
38.00
37.16
Philipina
39.33
36.00
37.66
Medan
36.67
35.00
35.00
Birma
35.33
33.67
33.67
Rata-rata
36.91
35.66

KK
19,48

Tabel 1 memperlihatkan tinggi tanaman beberapa varietas bawang merah dengan pemberian pupuk organik cair Herbafarm tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata. Pada varietas Gajah dengan tinggi tanaman yaitu 37. 16 cm berbeda tidak nyata dengan varietas Philipina, Medan, dan Birma yaitu 37.66 cm, 35.00cm. 33.67cm. Pada Tabel 1 memperlihatkan tinggi tanaman dengan pemberian pupuk organik cair 4 ml/l yaitu 36.91 cm berbeda tidak nyata dengan pemberian pupuk organik cair 6 ml/l yaitu 35.66 cm.
Tinggi tanaman yang dicapai tanaman bawang merah hampir sama dengan deskripsi potensi tinggi tanaman bawang merah varietas gajah yaitu 35-43, philipina yaitu 36-45, birma yaitu 25-44 dan medan yaitu 26,9 – 41,3. Hal ini diduga terjadi akibat unsur N yang terkandung di dalam tanah lebih dominan sehingga dapat menetralisir pengaruh konsentrasi POC Herbafarm yang diberikan.    
Prasetya, Kurniawan dan Febrianingsih (2009) menjelaskan bahwa unsur nitrogen bermanfaat untuk pertumbuhan vegetatif tanaman yaitu pembentukan sel-sel baru seperti daun, cabang, dan mengganti sel-sel yang rusak. Setyamidjaja (1986) mengemukakan bahwa apabila tanaman kekurangan unsur N tanaman akan memperlihatkan pertumbuhan yang kerdil.
Jumlah Daun Perumpun 
Tabel 2. Jumlah daun perumpun beberapa varietas bawang merah dengan pemberian pupuk organik cair Herbafarm 8 minggu setelah tanam.

Varietas
Konsentrasi  ml/l
Rata-rata
4
6
……………….....Helai…..……………..
Gajah
38.33
36.33
37.33
Philipina
35.33
35.33
35.33
Medan
36.33
36.67
36.50
Birma
36.00
36.00
36.00
Rata-rata
36.49
36.08

KK
19,48

Tabel 2 memperlihatkan jumlah tanaman beberapa varietas bawang merah dengan pemberian pupuk organik cair Herbafarm berpengaruh tidak nyata. Pada varietas Gajah dengan jumlah daun yaitu 37. 33 lembar berbeda tidak nyata dengan varietas Philipina, Medan, dan Birma yaitu 35.33 lembar, 36.00 lembar dan 36.00 lembar. Pada Tabel 1 memperlihatkan jumlah daun tanaman dengan pemberian pupuk organik cair 4 ml/l yaitu 36.49 lembar berbeda tidak nyata dengan pemberian pupuk organik cair 6 ml/l yaitu 36.08 lembar.
Selain perbedaan unsur N yang diterima tanaman dari berbagai konsentrasi POC, perbedaan jumlah daun yang tidak cukup berarti akibat berbagai konsentrasi POC kemungkinan disebabkan oleh curah hujan yang tinggi pada saat penelitian. Curah hujan yang tinggi menyebabkan unsur hara ikut tercuci oleh air hujan yang menjadi penyebab hanyutnya unsur hara sehingga kurang termanfaatkan oleh tanaman.
Lingga dan Marsono (2000) menyatakan faktor yang mempengaruhi tekanan turgor ialah banyaknya air yang terbuang lewat penguapan daun. Hal ini erat kaitannya dengan terik matahari, angin dan hujan. Jika matahari terlalu terik dan angin terlalu kencang maka penguapan akan banyak terjadi. Begitu juga jika hujan, pupuk yang diberikan lewat daun akan ikut tercuci dan terbawa air perkolasi.
Jumlah Umbi Perumpun
Tabel 3. Jumlah umbi perumpun beberapa varietas bawang merah dengan pemberian pupuk organik cair Herbafarm

Varietas
Konsentrasi ml/l
Rata-rata
4
6
……………….....siung…..……………..
Gajah
10.67
8.00
9,33 A
Philipina
8.67
7.33
8,00 A
Medan
6.00
5.00
5,50 B
Birma
4.00
3.33
3,67 B
Rata-rata
7.33 a
5.91 b

KK
19,48
Angka-angka sebaris diikuti huruf kecil dan angka-angka selajur diikuti huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut DMRT 5%.

Pada Tabel 3 memperlihatkan jumlah umbi perumpun beberapa varietas bawang merah dengan pemberian pupuk organik cair Herbafarm berinteraksi tidak nyata. Pada varietas Gajah terlihat jumlah umbi perumpun dengan rata-rata yaitu 9,33 siung berbeda tidak nyata dengan Varietas Philipina yaitu 8,00 siung dan berbeda nyata dengan varietas Medan dan Birma dengan rata-rata jumlah umbi perumpun yang masing-masingnya yaitu 5,50 siung dan 3,67 siung.
Pada Tabel 3 memperlihatkan jumlah umbi perumpun dengan pemberian pupuk organik cair 4 ml/l yaitu dengan rata-rata 7,33 siung berbeda nyata dengan pemberian pupuk organik cair 6 ml/l yaitu 5,91 siung.
Berbedanya jumlah umbi perumpun antar varietas bawang merah diduga karena pengaruh sifat genetik yang dimiliki oleh varietas bawang merah dan interaksinya dengan faktor lingkungan. Makmur (2010) menyatakan bahwa banyaknya jumlah umbi perumpun yang dihasilkan oleh tanaman bawang merah ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan. Hal ini berkaitan dengan jumlah daun perumpun karena organ ini mempunyai peran penting dalam fotosintesis. Proses fotosintesis yang terjadi didaun akan mempengaruhi jumlah makanan yang akan disimpan didalam umbi dan juga akan berpengaruh pada bobot dan jumlah umbi yang dihasilkan.
Bobot Umbi Segar Perumpun
Tabel 4. Bobot segar umbi perumpun beberapa varietas bawang merah dengan pemberian pupuk organik cair Herbafarm

Varietas
Konsentrasi ml/l
Rata-rata
4
6

                   …………….g…………………..

Gajah
99.00
95.00
97,00 A
Philipina
93.00
85.00
89,00 A
Medan
83.00
80.33
81,67 A
Birma
77.67
69.33
73,50 B
Rata-rata
88,16 a
82.41 b

KK
4,69

Angka-angka sebaris diikuti huruf kecil dan angka-angka selajur diikuti huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut DMRT 5%

Pada Tabel 4 diatas memperlihatkan bobot segar umbi perumpun beberapa varietas bawang merah dengan pemberian pupuk organik cair Herbafarm berbeda tidak nyata. Pada varietas Gajah terlihat bobot segar umbi perumpun dengan pemberian pupuk organik cair  yaitu 97,00 g berbeda tidak nyata dengan varietas Philipina dan varietas Medan yang masing-masingnya yaitu 89,00 g dan 81,67 g, berbeda nyata dengan varietas Birma yaitu 73,50 g.
Pada Tabel 4 juga memperlihatkan pemberian pupuk organik cair pada setiap varietas yaitu dengan pemberian 4 ml/ltr air berbeda nyata dengan pemberian pupuk organik cair 6 ml/ltr air. tidak berbedanya bobot basah umbi perumpun varietas tanaman bawang merah dipengaruhi oleh unsur hara yang terkandung didalam POC diduga dipengaruhi oleh pertumbuhan tanaman seperti tinggi tanaman perumpun (Tabel 1), jumlah daun perumpun (Tabel 2), dan jumlah umbi perumpun (Tabel 3) dan kemampuan organ tanaman dalam memanfaatkan cahaya matahari untuk melakukan proses fotosintesis, serta memanfaatkan faktor lingkungan dalam mengabsorsi zat makanan, sehingga umbi yang terbentuk lebih besar (Harjadi, 2006).
Bobot Kering Umbi Perumpun
Tabel 5. Bobot kering umbi perumpun beberapa varietas bawang merah dengan pemberian pupuk organik cair Herbafarm
Varietas
Konsentrasi ml/l
Rata-rata
4
6
                   ……………..g……………………

Gajah
91.67
95.67
93,67 A
Philipina
88.33
81.33
84,83 A
Medan
74.33
71.33
72,83 A
Birma
69.00
58.33
63,67 B
Rata-rata
80.83a
76.66a

KK
6,51

Angka-angka sebaris diikuti huruf kecil dan angka-angka selajur diikuti huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut DMRT 5%.

Pada Tabel 5 diatas memperlihatkan bobot segar umbi perumpun beberapa varietas bawang merah dengan pemberian pupuk organik cair Herbafarm berbeda tidak nyata. Pada varietas Gajah terlihat bobot segar umbi perumpun dengan pemberian pupuk organik cair  yaitu 93,67 g berbeda tidak nyata dengan varietas Philipina dan varietas Medan yang masing-masingnya yaitu 84,83 g dan 72,83 g, berbeda nyata dengan varietas Birma yaitu 63,67 g.
Pada Tabel 5 juga memperlihatkan pemberian pupuk organik cair pada setiap varietas yaitu dengan pemberian 4 ml/l dengan rata-rata yaitu 80,83 g berbeda tidak nyata dengan pemberian pupuk organik cair 6 ml/l yaitu dengan rata-rata 76,66 g. Jumlah umbi juga meningkatkan bobot kering umbi perumpun, pada pemberian yang sama. Jika dihubungkan dengan pertumbuhan vegetatif (Tabel 1, 2) bahwa pemberian POC 4 ml/l air menunjukkan hasil tertinggi. Sebagai mana telah dijelaskan bahwa Pemberian POC yang tepat mengakibatkan pertumbuhan akar yang optimal sehingga serapan hara dan air juga optimal. Dengan tersedianya CO2 dan air, kemudian Clorophyl, adanya peran kalium salah satunya mentransfer karbohidrat dan protein optimal, sehingga terjadi peningkatan bobot umbi kering perumpun.
Bobot Kering Umbi Perplot
Tabel 6. Bobot kering umbi perplot beberapa varietas bawang merah dengan pemberian pupuk organic cair Herbafarm
Varietas
Konsentrasi ml/l
4
6
     ……………………. g…………………..
Gajah
982.67 aA
953.33 aA
Philipina
917.00 aA
830.67 aA
Medan
839.67aA
679.67 bB
Birma
666.67 bB
680.67 bB
KK
5,19
Angka-angka sebaris diikuti huruf kecil dan angka-angka selajur diikuti huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut DMRT 5%.

Pada Table 6 memperlihatkan hasil bobot kering umbi perplot beberapa varietas bawang merah pada beberapa taraf konsentrasi pupuk organik cair berpengaruh nyata. Pada varietas Gajah dengan pemberian pupuk organik cair 4 ml/l interaksi terbaik diperoleh yaitu 9.82 kg, walaupun hasil tersebut tidak berbeda dengan varietas gajah dengan konsentrasi 6 ml/l, varietas philipina pada konsentrasi 4 ml/l dan varietas medan pada konsentrasi 4 m/l. sedangkan pada varietas Birma dengan pemberian pupuk organik cair 4 ml/l memperlihatkan interaksi terendah yaitu 6.66 kg.
Pada varietas Gajah dengan pemberian pupuk organik cair 4 ml/l berbeda tidak nyata dengan pemberian pupuk organik cair 6 ml/l yaitu 9.82 kg dan 9.53 kg. pada varietas Philipina dengan pemberian pupuk organik cair 4 ml/l berbeda tidak nyata dengan pemberian pupuk organik cair 6 ml/l yaitu 9.17 kg dan 8.30 kg. pada varietas Medan dengan pemberian pupuk organik cair 4 ml/ l berbeda sangat nyata dengan pemberian pupuk organik cair 6 ml/l yaitu 8.39 kg dan 6.79 kg, sedangkan pada varietas Birma dengan pemberian pupuk organik cair 4 ml/l berbeda tidak nyata dengan pemberian pupuk organik cair 6 ml/l yaitu 6.66 kg dan 6.80 kg.
Pada pemberian pupuk organic cair 4 ml/lt air dengan varietas Gajah berbeda tidak nyata dengan varietas Philipina dan Medan, Berbeda sangat nyata dengan varietas Birma yang masing-masingnya 9.82 kg, 9.17 kg, 8.39 kg dan 6.66 kg. pada pemberian pupuk organik cair 6 ml/l dengan varietas gajah berbeda tidak nyata dengan varietas Philipina, berbeda sangat nyata dengan varietas Medan Dan Birma yang masing-masingnya 9.53 kg, 8.30 kg, 6.79 kg, dan 6.80 kg.
Bobot kering menunjukkan hasil terbaik pada pemberian pupuk organik cair dengan dosis 4 ml/l air. Bobot kering tanaman sangat dipengaruhi oleh unsur hara yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan cahaya yang diterima oleh tanaman. Gardner et al.(1991), menyatakan bahwa peningkatan bobot kering dipengaruhi oleh laju fotosintetis, dimana laju fotosintetis dapat berjalan jika tanaman dapat menerima dan menggunakan cahaya matahari secara optimal. 
Bobot Kering Umbi Ha -1
Tabel 7. Bobot kering umbi perplot beberapa varietas bawang merah dengan pemberian pupuk organic cair Herbafarm

Varietas
Konsentrasi ml/l
4
6
…………………….ton…………………..
Gajah
12.28
11.91
Philipin
11.91
10.38
Medan
11.46
8.49
Birma
8.33
8.50

Table 7 memperlihatkan bobot kering umbi bawang merah pada varietas Gajah dengan pemberian pupuk organik cair Herbafarm 4 ml/lt air memperlihatkan interaksi terbaik yaitu 12.28 ton, sedangkan bobot kering umbi pada varietas Birma dengan pemberian pupuk organic cair Herbafarm 6 ml/lt air merupakan interaksi terendah yaitu 8.50 ton.
Setiap tanaman dosis POC yang diberikan akan mempengaruhi besar kecilnya kandungan hara dalam pupuk tersebut, tetapi belum dapat dijamin bahwa semakin besar dosis yang diberikan akan  semakin meningkatkan pertumbuhan tanaman. Sebab tanaman juga memiliki batas dalam penyerapan hara untuk kebutuhan hidupnya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Sarwono Hardjowigeno (1989), bahwa jumlah unsur hara yang diperlukan untuk menyusun bagian-bagian tanaman tersebut berbeda untuk setiap jenis tanaman maupun untuk jenis tanaman yang sama tetapi dengan tingkat produktivitas yang berbeda. Pemberian pupuk organik dapat memperbaiki sifat-sifat tanah.

SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan yaitu interaksi perlakuan Varietas Gajah dengan konsentrasi POC 4 ml/l mampu menghasilkan bobot kering umbi perplot sebesar 12.28 ton/ha. Berdasarkan kesimpulan diatas disarankan menggunakan varietas Gajah dan Pupuk Organik Cair Herbafarm dengan konsentrasi 4 ml/l meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Profil dan Monografi Kenagarian Sinuruik. Kenagari Sinuruik, Kecamatan Talamau. 57 halaman

______ . 2012. Herbafarm Bio Organik. Penerbit. PT. Nutrend International. Jakarta. 8 halaman

Baswarsiati, T.Purbiati, L. Moenir. 2001.  Uji multilokasi calon  varietas unggul bawang merah adaptif lingkungan spesifik di sentra produksi Jawa Timur.  Pros. Seminar Hasil Penelitian/pengkajian.  BPTP Karangploso. 54 halaman

BPS. 2008. Sumatera Utara dalam Angka 2008. BPS Sumatera Utara. Medan.

Deptan, 2007 . Prospek Dan Arah Pengembangan Agribisnis Bawang Merah. Deptan. 24 halaman

FAO. 2010. Top Production – Onions, dry 2008. http://faostat.fao.org  [25 Februari 2014].

Gardner, F.P., R.B. Pearre dan R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanama Budidaya.            Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Hariansib. 2010. Sumut Pasok Bawang Merah dari Brebes dan India. http://hariansib.com [25 Februari 2014].

Harjadi S. S, 2006. Pengantar Agronomi. Gapustaka Utama. Jakarta. 197 halaman.

Hortikultura, 2010. Pengenalan dan pengendalian beberapa OPT Benih Hortikultura. 36 halaman

Lingga P dan Marsono. 2000. petunjuk penggunaan pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta. 161 halaman

Makmur A. 2010. Pokok-pokok Pengantar Pemuliaan Tanaman. Bima Aksara. Jakarta
Prasetya, B., S, Kurniawan, dan Febrianingsih. 2009. Pengaruh Dosis dan Frekuensi Pupuk Cair Terhadap Serapan dan Pertumbuhan Sawi  ( Brassica junsea L. ) Pada Entisol. Univ. Brawijaya. Malang.

Sarwono H.W, 1989. Ilmu Tanah.  Medyatama Sarana Perkasa. Jakarta. 233 Hal.

Singgih. W. 2013. Budidaya Bawang. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta. 120 halaman




Tidak ada komentar:

Posting Komentar